Semenjak manusia purba menyadari bahwa artikulatornya dapat dipakai untuk membentuk berbagai macam nada dan suara, manusia mulai perlahan mengubah sistem komunikasi yang tadi non verbal berupa simbol maupun gambar menjadi suara atau verbal. Kompleknya sistem komunikasi manusia menyebabkan manusia membutuhkan banyak sekali simbol maupun media untuk merepresentasikan berbagai ragam keinginannya tersebut agar dapat difahami oleh orang lain. Mulai sekedar mengeluarkan bunyi vokal tunggal hingga akhirnya menciptakan kombinasi dengan konsonan memberi peluang yang sangat lebar dalam menyimbolkan berbagai macam maksud. Otak yang terus berkembang menyebabkan manusia terus menambah bank data simbolnya dan menemukan cara bagaimana mengembangkan simbol-simbol tersebut dengan cara menggabungkannya satu sama lain sesuai teori probabilitas.
Kenapa sih manusia harus repot menciptakan banyak simbol sementara hewan tidak? Berbeda dengan hewan yang hanya memiliki naluri untuk makan dan berkembang biak, manusia dengan nalar dan emosinya mampu membuat dirinya untuk dikenali ciri khasnya agar eksistensi pribadinya diakui oleh lingkungannya. Jika hewan menunjukkan eksistensinya dengan cara mempertontonkan kelebihan fisiknya maka manusia lebih cenderung untuk mengolah kelebihan itu melalui simbol-simbol entah gesture, pandangan mata, busana dan cara komunikasi verbal. Hal terakhir ini yang kemudian semakin dikembangkan karena hanya manusia yang sanggup menciptakan nilai-nilai baru melalui sistem komunikasi verbal dibandingkan hewan. Manusia mengganggap bahwa kemampuan komunikasi verbal yang tinggi akan membedakannya dengan hewan.
Dengan penguasaan cara komunikasi ini manusia semakin menggali kemampuan bicaranya agar suara yang dihasilkannya dapat direpresentasikan menjadi gambar sebagai sebuah “rekaman suara” nya yang dapat dimengerti oleh orang lain. Selanjutnya muncullah alfabet, sebuah gambar yang merepresentasikan suara. Dengan alfabet beserta turunan kombinasinya manusia semakin tergila-gila untuk terus menyusun sebanyak-banyaknya kombinasi itu yang kemudian berkembang menjadi sebuah maksud yang tergambarkan. Inilah asal muasal cerita. Cerita merupakan representasi dari runutan imanjinasi yang ada di otak manusia. Tidak akan ada cerita jika tidak ada imajinasi. Teks hanya representasi visual agar orang lain mengerti tentang isi rekaman otak kita. Selama simbol dalam teks tersebut secara konvensional disepakati artinya maka komunikasi akan berjalan dengan lancar. Sebagian besar hewan tidak memiliki imajinasi sekuat manusia. Mamalia memiliki memori namun tidak sebrutal yang dimiliki otak manusia. Ini yang membedakan eksistensi manusia dengan hewan. Dengan kemampuan bercerita manusia dapat mengekspresikan emosinya tanpa harus disertai dengan aneka gerak yang merepotkan. Modalnya hanya kosa kata, pungtuasi, penekanan makna dan ekspresi. Selebihnya hanyalah pendukung yang dapat diabaikan seperti misalnya gambar ataupun peraga visual lainnya. Metode bercerita ini dikenal dengan istilah story telling dan terbukti menjadi metode ampuh selama ribuan tahun untuk menarik lawan bicara atau audiens. Bahkan dengan kemampuan oratoris seseorang mampu “menyihir” lawan bicara karena pesona tutur katanya sehingga orang lain pada akhirnya mengikuti apa yang dikatakan orator tadi. Kuncinya adalah sumber informasi satu pintu dimana tidak ada lagi sumber lain dengan kapasitas yang sama dalam memenuhi informasi otak pendengar sehingga pendengar cenderung melihat informasi sebagai data satu arah karena tidak ada lagi rujukan lain yang membuatnya ragu-ragu atas informasi tunggal tersebut.
Jadi sebenarnya kekuatan cerita itu adalah membentuk ruang kepercayaan pendengar dengan segala macam strategi dan metodenya. Di zaman modern seperti sekarang, kebutuhan story telling menjadi kian penting ketika sebuah produk yang dihasilkan manusia tidak lagi hanya sekedar memenuhi kebutuhan jasmani karena fungsinya belaka melainkan menjadi pemenuhan rohani karena dapat memuaskan konsumennya. Produk yang bersandarkan fungsi pasti jelas peruntukannya sehingga fungsi baru akan menciptakan kebutuhan yang baru pula. Pasar yang penuh akan variasi produk-produk yang sejenis menciptakan perbedaan yang tipis-tipis sehingga produk satu dengan lainnya harus berjuang habis-habisan untuk meraih minat pembeli. Dalam dunia bisnis, konsumen dihadapkan kepada kebingungan dalam pemilihan produk yang pas untuk mereka. Polusi produk sejenis membuat konsumen semakin hati-hati dalam melakukan pemilahan produk yang sesuai dengan kebutuhannya. Kondisi ini memang menjadi melelahkan sehingga kerap terjadi konsumen salah ambil barang barang karena desakan waktu yang pendek untuk merenung.
Manusia adalah makhluk sosial yang perlu banyak masukan cerita untuk membuatnya percaya diri dalam mengambil keputusan. Kepercayaan diri ini penting mengingat manusia harus mampu mengatur hidupnya secara efisien dan efektif dari berbagai sumber daya terbatas yang dimilikinya. Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari manusia membutuhkan cerita yang cukup agar dalam pengambilan keputusan pembelian barang dapat dilakukan dengan cara yang tepat. Salah satu keunggulan bersaing produk adalah aspek desainnya. Tampilan yang mampu memikat mata akan menarik hati konsumen untuk mendekat dan membelinya. Tak hanya bentuk luarnya saja yang memikat namun produk kemasan juga wajib menyematkan spesifikasi bahan yang dikandungnya sehingga konsumen menjadi semakin percaya diri untuk membeli. Tata letak grafis pun menjadi salah satu penentu bagaimana konsumen mudah untuk menelusuri informasi dengan tepat. Namun jika aspek-aspek tersebut sudah dimiliki oleh produk lain yang sejenis, dimana lagi daya saing produknya? Nah ini yang menarik. Siapa sih yang mau melepaskan kesempatan saat ada konsumen yang kebetulan masuk ke dalam show room produk meski hanya sekedar melihat-lihat barang belaka? Pasti akan sigap disambut dengan senyum ramah pemilik toko. Apa yang dilakukan pemilik toko tersebut? Ia akan berusaha mati-matian agar calon pembeli untuk tidak segera meninggalkan tokonya dengan cara menghambatnya melalui serentetan cerita tentang produk-produk yang ada di toko dengan segala imbuhan ceritanya. Barang pajangan adalah benda mati, dia tidak bisa menceritakan dengan suaranya sendiri kehebatannya kecuali melalui orang yang menjualnya. Di sinilah peran cerita sebagai strategi persuasi calon pembeli. Calon pembeli yang tadinya hanya sekedar melihat-lihat saja pada akhirnya rela membuka kocek dompet untuk membelinya. Dalam dunia desain komunikasi visual, kemasan menjadi salah satu corong suara produsen untuk membuat konsumen terpikat. Ini yang kemudian membedakannya dengan produk lain. Karena hal ini menjadi ciri khas maka kreatifitas ini di banyak negara mendapat perlindungan khusus secara formal melalui hak atas kekayaan intelektual di bidang merek dagang, desain industri maupun hak cipta. Merek tak hanya melindungi logo namun bisa berupa kata-kata bombastis yang dapat mengingatkan konsumen akan ciri khas sebuah produk. Hal ini merupakan salah satu contoh kecil dalam story telling.
Semakin jenuhnya pasar semakin banyak produk yang sama membanjiri pasar. Konsumen semakin enggan pergi ke pasar karena teknologi telah memfasilitasinya untuk menghadirkan informasi pasar melalui gadgetnya yang dapat diakses sambil tiduran di rumah. Teknologi informasi dan sosial media telah merubah tatanan sosial menjadi interaksi tak langsung. Semua menjadi serba representasi. Manusia menjadi avatar, barang menjadi foto, emosi menjadi emotikon, khayalan menjadi meme, berkelana tinggal menavigasi google earth dan sebagainya. Yang tadinya manusia harus pergi meninggalkan rumah untuk belanja barang menjadi dunia yang terbalik. Barang yang mengejar-ngejar manusia melalui online shopping. Melihat seluruh barang di satu mall hanya cukup dengan sekali-dua skrol ponsel. Apa dampaknya terhadap persaingan produk? Produk sekali lagi dihadapkan kepada caranya memberitahu kepada konsumen bahwa saya ada, saya beda, dan saya unggul. Nah, selama pegawai toko sudah tidak bisa lagi hadir untuk menceritakan keberadaan produk tersebut maka story telling semakin penting dan menjadi ujung tombak kompetisi produk.
Story telling di masa sekarang sudah menjadi bagian dari keterampilan para pemasar produk yang sudah barang tentu konstruksinya harus dibicarakan bersama dengan desainernya karena dialah yang mengusai product knowledge. Membangun cerita berarti membangun imajinasi. Imajinasi yang menarik lahir dari insan yang kreatif. Gendang perang dagang pun semakin nyaring ditabuh. Pemasar harus bisa menceritakan sesuatu yang menarik dibalik mereknya. Semakin konsumen tertarik dan membeli barang tersebut semakin meningkat citra produk di mata konsumen. Ini yang kemudian dikenal dengan istilah branding. Memperkuat citra suatu produk dengan cara mempersuasi konsumen melalui strategi story telling. Story telling yang kuat akan menciptakan diferensiasi produk yang membawa pikiran konsumen akan keberbedaan suatu produk dengan yang lainnnya. Tiada kecap yang tiada nomer satu. Persoalannya sekarang adalah bagaimana caranya membangun story telling? Yang pertama adalah memahami terlebih dahulu selera konsumen terhadap jenis produknya. Cerita yang tidak tepat justru akan menjadi bumerang yang tidak bisa serta merta kita perbaiki. Artinya keinginan konsumen harus dapat diidentifikasi sehingga cerita yang dibuat dapat lagsung dicerna karena inti cerita mirip dengan pengalaman hidupnya. Contohnya menjual sepatu sekolah maka story telling harus lebih banyak memberi gambaran bahwa sepatu yang dijual terlihat menarik, kekinian, nyaman, aman dan menciptakan pujian teman-teman sekolah lainnya. Cerita pendek ini nampaknya sederhana namun berdampak kepada keputusan konsumen untuk membelinya dengan penuh percaya diri.
Di tengah polusi brand sejenis, pemasar benar-benar ditantang untuk memutar otak sekencang mungkin agar masih dapat mengambil hati di tengah pasar yang sudah tersegmentasi sedemikian rupa. Di tengah masyarakat yang sudah memiliki daya beli yang cukup, harga murah bukanlah menjadi konstrain pertimbangan utama. Berarti pemasar sudah harus pula membangun story telling tak hanya secara verbal atau kata-kata dalam teks saja melainkan sudah waktunya untuk membentuk opini melalui media lainnya yaitu visualisasi berupa konten video. Memaksimalkan aktivitas sosial media pada masa sekarang merupakan strategi pemasaran yang cukup ampuh. Apalagi sistem masyarakat Indonesia yang notabene gemar gossip, pemasar tak perlu lagi door to door memasarkan produknya karena dengan sendirinya akan mengalir secara otomatis dari media satu ke media lainnya. Jika sebuah brand produk telah memikat dan menempati hati konsumen maka akan tercipta yang namanya brand loyalty. Situasi seperti ini yang diharapkan para produsen karena pemasar sudah tidak perlu lagi capek-capek promosi barang. Namun demikian, dalam perkembangannya perlu dilakukan updating story dimana konsumen harus dipelihara kepercayaan dirinya melalui cerita-cerita yang selalu terus diperbaharui. Ingat, sifat kompetitor adalah berusaha mengisi kekurangan produk kita dimana konsumen merasakan bosan akan tampilan produk yang stagnan. Brand boleh sama, produk harus dikembangkan desainnya, apalagi ceritanya, harus senantiasa dimutakhirkan. Dengan story telling yang selalu membuat konsumen spesial, maka konsumen pada akhirnya akan menaruh kepercayaan yang besar terhadap brand sebuah produk.
Barikut adalah contoh bagaimana membangun cerita dari sebuah produk dengan desain baru yang dihasilkan oleh Mufti Alem pada kegiatan DDS:
Produk keranjang pakaian hasil kolaborasi UKM Raja Serayu dengan desainer Mufti Alem ini lahir dri program Pendampingan Desain (Designers Dispatch Service) tahun 2016 yang langsung di pinang oleh pembeli dari Riyadh. Meskipun ada beberapa penyesuaian namun tidak mengubah fungsi. Produk yang mengangkat cerita budaya membatik yang hampir punah karena dikerjakan oleh para ibu-ibu lansia ini, oleh pengrajin dilakukan regenerasi dengan mengajarkan para generasi muda tentang teknik membatik. Cerita hasil oret-oretan para pembatik muda yang masih belajar dan banyak yang belum rapi dan berujung menumpuk menjadi limbah inilah yang mendasari Mufti sang desainer menggandengkannya dengan media/material bambu.
Preserving Culture
Through Batik & Bamboo Woven by Mufti Alem
Raja Serayu adalah brand yang lahir dari kolaborasi hasil program by Designer Dispatch Service (DDS) 2016 dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional – Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (Kemendag – RI), sebuah program yang memfasilitasi kolaborasi pengembangan desain antara pelaku usaha dari berbagai daerah nusantara salah satunya adalah dari Cilacap, Jawa Tengah yaitu Rajasa Mas Batik (Ibu Euis dan Bapakv Tonik) dengan desainer produk dari Bandung yaitu Mufti Alem”
Konsep & Inspirasi Desain
Raja Serayu merupakan sebuah eksplorasi desain yang mengkombinasikan anyaman perca batik tulis dengan material bambu sebagai suatu simbol jalinan regenerasi pembatik di Cilacap. Suatu produk yang dikembangkan dari potensi yang dihasilkan dari proses meregenerasi para pembatik di daerah Cilacap yang kebanyakan berusia 55-70 tahun melalui pengenalan dan pelatihan membatik gratis ke sekolah-sekolah SMP dan SMA yang hingga saat ini sudah menyentuh 800-1000 siswa
Hasil pelatihan membatik para siswa yang secara kualitas belum siap untuk dipasarkan kemudian diolah dan ditransformasi menjadi jalinan perca batik yang dianyam dengan bambu untuk
menghasilkan produk baru.
Designed by
www.alemplus.com
Crafted by
www.rajaserayu.com
Nah, para pembaca sekalian…
Dengan adanya story telling di atas ternyata pasar menunjukkan sentimen positif dan konsumen menjadi teredukasi atas informasi yang tersaji dalam brosur / katalog produk tersebut sehingga produk di atas laku terjual.
salam sehat penuh bahagia…
-namakuri-

Menarik critanya mBak… Banyakin lagi contoh-contoh prodaknya dong biar saya tambah paham gimana caranya membangun cerita. plz…..
An amazing insight!
thx mbak Moza, my idol…