Bersyukur pada Kehidupan Kedua

15 Maret 2021 menjadi hari yang membahagiakan bagiku karena berita melalui e-mail dari pihak Rumah Sakit tempat test PCR untuk yang kedua kali, menyatakan bahwa hasilnya negatif. Tak henti-henti mengucap syukur Alhamdulillah karena hanya atas izinNya-lah semua ini bisa terjadi.

 

Pengalaman sebagai penyintas Covid-19 ini memberikan pelajaran sangat berharga dalam banyak hal.  Dituangkan disini hanya sekedar berbagi pengalaman dengan harapan barangkali ada hal-hal dari rangkaian peristiwa ini yang dapat menjadi pembelajaran bersama.

 

Semoga tulisan pengalaman ini tidak menjadi redundan dari cerita-cerita yang mungkin sama dengan pengalaman penyintas lainnya. 

 

——-

 

Kelahiran Simtom

 

——-

 

Hari itu sepulang kantor, melakukan aktivitas seperti biasanya. Membuka maxy singkatan dari macbook sexy (nama panggilan untuk macbookku-red) dan melakukan beberapa hal termasuk membalas e-mail yang memerlukan beberapa file yang diminta oleh si pengirim, update bahan kerjaan dan lain-lain. Sempat mampir ruang makan dan icip-icip cemilan langka biji ketapang yang tumben entah darimana asalnya karena biasana hanya seringnya ditemui hanya pas lebaran. Itupun sudah lama absen di aneka hidangan ketika Hari Raya tiba. Namun demikian, tidak berapa lama berselang, tiba-tiba merasakan tenggorokan agak terganggu. Agak sakit ketika menelan. Sudah mencoba minum air putih dan seperti biasa ritual sebelum tidur yang selama ini dilakukan, minum 2-3 buah jeruk nipis yang diperas airnya. Tapi sampai beberapa hari, tenggorokan ini makin sakit ketika menelan, sampai ketika tidur pun langsung terbangun dan sangat sulit untuk tidur kembali. Beberapa hari sebelumnya juga sempat kehujanan dan pulang larut dengan perjalanan ke rumah yang cukup jauh melewati 3 kali keluar masuk tol. Bisa jadi penyebab pertahanan imun agak menurun.

 

Dalam rentang waktu 10 harian, sebanyak 4 kali konsultasi ke dokter hingga akhirnya pada diagnosa dokter yang ke-4 salah satu kemungkinannya adalah tertular virus Covid-19. Hal ini disimpulkan karena gejalanya tidak hanya radang tenggorokan tetapi juga demam, lemas dan meskipun radang tenggorokan mulai berkurang tetapi berganti batuk kering yang hebat, yang membuat agak sulit bernafas, padahal tidak mempunyai penyakit asma. 

 

——-

 

RS versi satu

 

——-

 

Perjuangan bahwa merasa akan sembuh karena sudah berobat 4 kali akhirnya pupus sudah karena rasa badan semakin tidak karuan. Dengan diantar keluarga siang itu langsung menuju salah satu Rumah Sakit Swasta di Jakarta dan langsung masuk ke Unit Gawat Darurat. Karena begitu banyak pasien yang juga membutuhkan penanganan cepat sementara kapasitas ruangan dan tenaga medis yang terbatas membuat proses antrian untuk mendapatkan penanganan pertama menjadi cukup panjang. Setelah beberapa jam akhirnya mendapatkan proses penanganan awal. Konsultasi dilakukan dimulai dari kronologis yang terjadi dilanjutkan dengan pengecekan kondisi saat itu termasuk tensi, suhu tubuh dan saturasi. Hasil sementara diagnosa menunjukkan adanya kemungkinan terpapar virus Covid-19, meskipun belum dilakukan test PCR. Kondisi yang lemah dan agak sulit bernafas karena batuk yang hebat, membuat pihak Rumah Sakit memutuskan penawaran prosedur penanganan yang tidak sama dengan pasien yang tidak menunjukkan gejala Covid-19.

 

Dan mulai dari pernyataan prosedur penanganan pasien Covid-19 tersebut disepakati, pihak keluarga sudah tidak bisa mendampingi pasien lagi. Hanya suster dengan pakaian APD lengkap yang membawa pasien melalui lorong sepi menuju ruang rontgen yang cukup berliku dan sunyi.

 

Setelah proses rontgen selesai langsung menuju ke ruang penanganan sementara di lantai 2, sampai para pasien mendapatkan kamar rawat inap. Semua ruangan yang dilalui tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, harus menggunakan akses khusus untuk membuka pintu dengan kartu yang hanya dimiliki oleh pihak yang berkepentingan yaitu dokter dan perawat. Setiba di ruangan transit tersebut, kembali dilakukan pengecekan termasuk diambil sample darah. Selang infusan mulai dipasang dilengan dan selang oksigen melintang dihidung untuk membantu pernafasan menjadi lebih nyaman. Tetap berfikir positif meskipun pada saat jarum infus ditusukkan ke lengan kiri ini, cukup banyak darah yang keluar hingga membuat tempat tidur dengan alas putih itu menjadi lautan merah karena darah yang keluar cukup banyak. Konon, hal ini terjadi karena pasien mengalami ketegangan dan berbagai perasaan yang berkecamuk luar biasa.

 

Akhirnya setelah merasa cukup tenang dan cukup tenaga, mulai mengabarkan keluarga yang masih setia menunggu di lobby dengan berbagai perasaan cemas bahkan ada yang khusuk membaca surat Yasin, berdoa terus menerus untuk kesembuhan pasien. Dengan harapan semoga kabar bahwa pasien sudah mendapatkan penanganan sementara akan membuat keluarga lebih tenang. Proses selanjutnya adalah test PCR untuk memastikan apakah pasien memang terinfeksi virus Covid-19. Test PCR kali ini cukup menegangkan dibanding test PCR yang sudah di lakukan beberapa kali semenjak Covid-19 beraksi di Indonesia. Ini sungguh jauh lebih sakit dan sedikit membuat hidung terluka. 

 

Anehnya lagi setelah 2 jam mendapatkan penangan, dokter jaga malam itu menyatakan sudah boleh pulang karena dari hasil kesimpulan diagnosa, pengobatan pasien masih bisa dilakukan penanganannya melalui rawat jalan. Cukup mencengangkan karena merasa belum ada perubahan dan proses antrian yang cukup melelahkan untuk mendapatkan penanganan siang tadi, sementara hasil swab belum keluar padahal berbagai gejalanya mengarah ke infeksi virus SARS-CoV-2. Meskipun pasien sudah menyampaikan bagaimana kondisi saat itu namun dokter jaga tetap bersikukuh bahwa pasien dibolehkan pulang dengan alasan nanti dokter spesialisnya juga tidak akan menangani karena disini masih banyak pasien prioritas yang perlu penanganan khusus. Menghindari debat panjang lebar karena kondisi yang masih lemah, kami kembali ke rumah sekitar pk. 01.00 pagi buta dan tanpa ada obat yang harus dikonsumsi. 

 

——-

 

RS Versi Dua

 

——-

 

Setiba dirumah interval batuk masih seperti semula, masih hebat, sementara kantong infusan di Rumah Sakit tadi masih penuh karena memang baru kurang lebih 2 jam penanganan melalui infus. Jadi penanganan pun memang masih belum ada efeknya. Tidak berapa lama tubuh rasanya semakin lemah karena demam disertai batuk yang semakin sering, membuat perut kram luar biasa hingga akhirnya terpaksa membangunkan keluarga dan hanya bisa bilang, “ga kuat” lalu mata pun sudah tidak bisa terbuka. Hanya mendengar kepanikan keluarga dan saat itu juga langsung kembali dilarikan ke Rumah Sakit yang tadi di pagi buta. 

 

Sayup-sayup hanya bisa mendengarkan isak tangis keluarga yang mengantar dan memanggil namaku. Tanpa merasakan proses kepanikan lainnya karena baru mulai tersadar ketika sudah di tempat tidur Rumah Sakit. Mulai terdengar ada yang memanggil namaku yang perlahan mulai bisa membuka mata. Saat itu orang pertama kali yang terlihat adalah dokter jaga yang tadi memperbolehkan pulang. Dia menyatakan bahwa hasil test PCR sudah keluar dan hasilnya positif.  Ingin sekali rasanya memberikan “penghargaan” side kick ala Isigawa Okinawate Ninjutsu, olahraga beladiri ekstrakurikuler yang aku ikuti sewaktu SMA, namun apa daya tubuh ini tidak mendukung. Rasa kesal terpaksa dipendam sambil menenangkan diri dan mengganti kekesalan secara perlahan dengan me-released melalui doa semoga dokter jaga yang masih muda ini mendapat pengalaman bagi profesionalismenya dalam bekerja dan menjadikan dia lebih paham dalam memutuskan mana pasien yang diperbolehkan rawat jalan dan mana yang harus stay

 

Kebayang bagaimana jika hal itu terjadi bagi pasien yang tidak memiliki kendaraan pribadi sementara masih pagi buta dan perlu penanganan segera. Heyy dokter K… Nyawa koq dianggap main-main!!!

 

Keesokan harinya menjelang sore, akhirnya mendapatkan kamar perawatan di lantai 5 tepatnya di kamar 508. Proses penanganan cukup baik dari para suster yang luar biasa ramah dalam memberikan layanan kepada para pasien. Mulai dari cara memeriksa tensi, suhu, saturasi, pemberian obat yang harus diminum dengan jumlah sampai belasan butir diawal perawatan sampai dengan pemberian obat yang dimasukkan melalui jarum suntik yang tertanam di pergelangan tangan. Sekali suntik untuk mengusir virus Covid-19 ini bisa sampai 4 tabung bergantian yang dilakukan dengan perlahan dan menenangkan. Seumur hidup belum pernah mengalami pemberian suntikan segitu banyak, bahkan ada salah satu cairan suntikan yang bikin lumayan pegel dan dialami setiap hari. Begitu pula jadwal pemberian obat anti-virus yang harus dikonsumsi 4 kali dan berakhir di jam 10 malam karena membutuhkan jeda waktu minum obat setidaknya 4 jam sekali. 

 

Para suster dengan pakaian APD lengkap yang pastinya membutuhkan adaptasi diawal pandemi ini tetap professional melaksanakan tugasnya dalam merawat pasien. Mereka cukup sabar dan memahami kondisi dan perasaan pasien. Termasuk pasien yang satu ini yang tetap melakukan aktivitas pekerjaan sesuai kemampuan meskipun sedang dalam masa perawatan. Seminggu pertama memang memutuskan untuk tidak berbicara kepada siapapun yang mencoba menghubungi melalui telepon seluler baik untuk menanyakan kondisi maupun pekerjaan. Hal ini dilakukan demi mempercepat proses penyembuhan dan supaya selang oksigen dapat bekerja maksimal dalam membantu rileksasi bernafas. Kendati demikian semua pihak yang menelpon direspon melalui teks supaya komunikasi tetap terjalin dan memahami ketidaksediaan dalam berbicara. Sampai akhirnya ketika merasa sudah jauh lebih baik, minggu kedua mulai melakukan komunikasi namun belum terlalu sering untuk berbicara karena masih mudah lelah. Sempat melakukan komunikasi melalui aplikasi tatap muka jarak jauh meski selang oksigen masih menjadi asesoris hidung karena tidak ingin menjadi penghambat dari proses pilot project yang sedang digarap oleh tim. Aku percaya, niat baik yang kita lakukan dengan mengukur kemampuan yang kita bisa insyaAllah akan dipemudah oleh Tuhan.

 

Begitu pula dengan dokter spesialis yang menangani, sangat menyenangkan karena komunikatif dan menjelaskan kondisi tubuh dan rekomendasi treatment dan bagaimana cara bekerja dan efeknya. Dokter spesialis tidak setiap hari berkunjung dan memeriksa secara langsung, karena cukup banyak pasien yang harus ditangani. Pengecekan setiap hari dilakukan melalui media online agar perkembangan terhadap kondisi pasien tetap terkendali. Ditambah dengan laporan para perawat yang setiap saat memantau kondisi pasien, membuat proses penyembuhan menjadi optimal. 

 

——-

 

Carut Marut Perasaan

 

——-

 

Hal yang cukup mencekam pada saat menjadi pasien Covid-19, adalah aturan dari Rumah Sakit tentang penanganan pasien Covid-19. Bahwa sebelum menjalani perawatan, seluruh pasien yang terpapar virus Covid-19 diwajibkan untuk menandatangani surat pernyataan yang isinya jika pasien meninggal, maka proses pemakaman akan dilakukan sesuai protokol Covid-19. Selain itu keluarga pasien pun harus menandatangani surat pernyataan, ketika meninggal, keluarga harus rela, mayat pasien akan dilakukan pemakaman dan lain-lain secara protokol kesehatan. Apabila keluarga pasien menolak menandatangani surat pernyataan itu, maka pihak Rumah Sakit tidak bisa memberikan layanan perawatan terhadap pasien. Seketika hal ini menjadi dilemma. Seperti simalakama dan terbayang wajah keluarga yang terakhir dilihat 2 hari lalu. Kebayang kalau sampai tidak terselamatkan maka tidak akan lagi bertemu keluarga dan sanak saudara bahkan kesempatan untuk disholatkan pun juga sudah tidak bisa didapatkan. Hanya bisa pasrah manakala seandainya hal itu benar-benar terjadi. 

 

Dan pada saat resmi berstatus sebagai salah satu pasien yang terpapar virus Covid-19, per tanggal 22 Februari 2021 terdata sebanyak 1.288.833 Positif Covid-19, Sembuh 1.096.994, Meninggal 34.691. Berdasarkan laporan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, kasus konfirmasi positif bertambah angkanya menjadi 10.180 orang dari hari sebelumnya. Dimana satu orang dari sepuluh ribu itu adalah riana.

 

——-

 

Ternyata Masih Banyak yang Menyayangiku

 

——-

 

Yang juga luar biasa adalah perhatian dari semua pihak baik sanak saudara, sahabat dan teman yang begitu besar dirasakan. Doa, rangkaian bunga, makanan kesukaan, makanan kekinian bahkan suplemen kesehatan, susu, madu, buah, cemilan, minuman dan kiriman lainnya yang tak henti-hentinya ditunjukkan membuat tidak ada alasan untuk tidak sembuh!!! Bahwa begitu banyak yang mengharapkan kesembuhanku membuat aku terus berjuang untuk menang dari virus yang saat ini sudah bermutasi lebih jauh.

 

Perhatian dari berbagai kalangan, para birokrat (pimpinan dari unit yang berbeda, rekan kerja yang sudah pindah unit), pelaku usaha dari berbagai daerah, saudara, sahabat, klien, mitra kerja dari kalangan swasta, para desainer, mitra bisnis, benar-benar membuat terharu dan tidak disangka. Yang juga mengharukan adalah perhatian yang datang dari salah satu klien dimana kami belum pernah bertatap muka sama sekali, tetapi menunjukkan atensinya yang begitu besar untuk kesembuhanku. Rangkaian bunga yang cantik, makanan dan buah yang meskipun sudah berada di rumah pun masih saja mengalir perhatiannya. MasyaAllah… tak henti-henti untaian doa ini mengalir dipanjatkan kepada Allah bagi semua pihak yang telah memberikan perhatian yang luar biasa. Semoga amal ibadah yang ditunjukkan ini mendapatkan balasan berlipat-lipat dari Allah SWT. Aamiin ya robbal alamiin…

 

——-

 

 

Konon, air liur dari Sarang burung Walet (SWB) mengandung asam amino. Asam amino sendiri adalah unsur kimiawi yang dapat membantu pertumbuhan serta regenerasi sel. Setelah diteliti ternyata ada banyak unsur air liur yang terkandung di dalam sarang burung walet. Sang pengirim berharap SWB ini dapat menjadi suplemen yang dapat meningkatkan imun yang membuat cepat sembuh. Etapi ga hanya SWB yang dikirim, ya suplemen, ya madu, ya buah, yayayayaaa… Thx, my bodyguard!

 

Mbak Dessy yang cukup sibuk dengan ekspor kopinya dan perusahaan entertainment untuk videografi yang kece banget hasil videonya ini, meskipun di Yogya, bisaaaa aja menghadirkan puding manja ini sebagai salah satu favorit yang mengisi keceriaan dalam masa-masa melawan Covid-19.

Sejak kuliah S2 dulu, idenya ada-adaaa aja… sampai sekarang pastinya berkembang deh itu ide ke hal-hal yang belum tentu kepikiran. Seperti rangkaian bunga nan cantik ini, sama Tania disisipkan kue waffle diantara bunga-bunga dan minuman kopi kekinian yang disertakan bersama rangkaian ini. Ahhh… Taniaa… semoga usaha kulinermu semakin cetar yaa… Apalagi dengan bertambahnya kedai yang baru dibuka dibilangan Ciledug beberapa hari lalu.

 

Dan bunga feminine ini jadi kejutan yang membahagiakan karena sampai saat ini kami belum pernah bertatap muka tapi begitu besar perhatiannya untukku. Senang sekali bisa menjadi sahabat bu Rini yang banyak pengalaman tapi sangat rendah hati dan seru dalam membahas banyak hal. masih ada ya ternyata orang baik didunia ini yang ga kenal pamrih.

Yang juga ga mau ketinggalan absen dalam daftar pengirim adalah pengusaha muda asal Yogya dengan prinsip yang mengusung kearifan lokal pada setiap produknya di Belindo. mbak Suliiiss aku auto buka toko nihh banyak bangeetts… Terima kasih “Beruang Madu”nya yaa… Masih kebayang deh kehebohan persiapan pelepasan ekspor di Yogya tahun lalu yaa… Miss U… 

 

Ada juga beberapa teman dan sahabat yang khusus mengirimkan hantaran makan siang dan kudapan lainnya. Kerelaan mengirimkan sesuatu, memilih menu, memesan untuk riana itu adalah usaha yang perlu diapresiasi. Apalagi yang mengirim juga punya pekerjaan yang menyita waktu. Tks smuanyaaa… Bener-bener membuat proses penyembuhan jadi lebih cepat dari yang diprediksi.

 

Bahkan sudah proses isoman masih aja dikirimkan paket makan siang “marah-marah” dari bu Rini… Disebut “marah-marah” karena jumlahnya yaang… MasyaAllah… banyak bangetsss… hehehee… udah gitu pake tulisan dan foto doong yess… lucu banget sih buu… Rejeki dan perhatian yang luar biasaa… Alhamdulillah…

 

——-

 

Tanpa mengurangi rasa hormat, mohon maaf jika tidak semua kiriman ditayangkan disini. Selain dikarenakan ada yang tidak sempat terdokumentasikan saking enaknya jadi langsung di eksekusi, ada yang bentuk bunganya udh ga rapi pas di foto, ada juga karena disimpan untuk edisi lain yang insyaAllah bermanfaat bagi si pengirim sebagai bentuk penghargaan dari perhatian yang diberikan. 

 

——-

 

Isoman

 

——-

 

Kendati sudah pada fase karantina/isolasi mandiri atau dikenal dengan istilah isoman, bukan berarti kondisi tubuh pasti sudah normal. Jalan sebentar saja membutuhkan usaha untuk mempertahankan keseimbangan tubuh yang melelahkan. Masih limbung, miring ke kiri dan ke kanan karena lemas. Kapal oleeengg Kapteenn… Bahkan tenaga untuk melakukan aktivitas hari-hari belum bisa seperti sediakala. Kalaupun hari ini merasa sudah sehat, bisa saja besok ternyata tiba-tiba kepala masih terasa berat dan area leher dan tenggorokan masih sangat tidak nyaman. Belum stabil. 

 

Dampak Covid-19 ini memang berbeda-beda bagi setiap pasien. Yang jelas virus tak kasat mata ini sangat destruktif. Tergantung daya tahan tubuh serta kekuatan pasukan imun kita yang berjuang mengusir Covid-19 yang bercokol di dalam tubuh. Dan tentu saja semangat serta pikiran positif yang harus terus dibangun baik oleh diri sendiri maupun orang disekeliling kita. Yang terakhir dan tak kalah penting adalah doa. Karena kekuatan doa melebihi segalanya.

 

——-

 

Jalan Tol Illahi

 

——-

 

Berbagai peristiwa yang terjadi ini membuat semakin menghargai arti hidup. Yang selalu ada dipikiran adalah Allah, yang selalu dibathin dan diucapkan adalah dzikir yang tiada henti. Terus menerus memohon agar kiranya Allah berkenan memberikan kesempatan untuk sembuh agar bisa mengumpulkan amal kebajikan, supaya bisa berbuat hal-hal yang bermanfaat untuk orang banyak. Dan Allah menunjukkan betapa Dia menyayangi, mengasihi dan mencintai seorang riana dengan penuh kelembutan dan sama sekali tidak menakutkan. Banyak hal yang ditunjukkan dengan caraNya yang elegan dan penuh makna. Hanya dengan kuasaNya, kehendakNya, dengan sangat mudah Dia lakukan. Semua doa yang dihaturkan dijawab langsung melalui berbagai kemudahan yang membahagiakan. Seolah sedang ditunjukkan bagaimana prioritas dari Allah untuk seorang riana. 

 

Dari sekita 7,8 milyar penduduk di dunia, Allah memberikan prioritas dengan menyambangi riana secara khusus dan langsung. Perasaaan cinta Allah ini menjadi anugerah bagiku, membuatku larut dalam cintaNya, membuat aku wajib membalas dengan perasaan yang sama bahkan lebih cinta. Kalau kita bisa merasakan kasih sayangNya, kita harus mulai menunjukkan satu per satu kewajiban yang digariskan olehNya kepada semua umat, sebagai tanda bahwa kita juga sangat mencintaiNya. Dan cara bersyukur itu sangat mudah dilakukan, dimana saja dan kapan saja. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa dilakukan.

 

Kita tidak sendirian, aku adalah satu dari jutaan penyintas Covid-19 di bumi ini. Tiada hal baru dari apa yang diceritakan ini kecuali semakin menambah wacana pengalaman sehingga pembaca menjadi lebih peduli akan betapa besar kasihNya dalam situasi dimana manusia hanya berupaya memperpanjang nafas hidupnya, selebihnya semua suratan hidup ada di tanganNya. 

 

Deru perjuangan cerita di atas diringkas dalam prosa liris di bawah ini:

 

Engkau Buku Harianku

 

Semalaman ku sulit picingkan mata, pikiran berkelana jauh kemana-mana. Mencoba memberi makna dari hidup satu ke hidup berikutnya. Aku sangat letih dan berusaha mengingat kembali kemana saja langkah cerita hidupku harus kuingat sebagai titik balikku.

 

Pernah berpikir bahwa takdir dapat dirubah jika manusia punya nalar sehat. Jiwa dan ragaku tersimpan energi yang besar untuk terus mencurahkan yang kupunya untuk sesama. Tiada yang dapat menghentikan roda semangat itu kecuali diriku sendiri. Namun mengalahkanku tak perlu Kau ciptakan seorang manusia yang bengis dan sombong. Cukup Kau hembuskan makhluk kecil kasat mata melalui hembusan angin ke dalam tubuhku. Mahkluk itu hanyalah mengikuti perintahMu, beribadah kepadaMu dengan menjalankan fitrah kehidupan untuk berkembang biak dan bertahan hidup di dalam tubuhku.

 

Namun Ya Rabbi, peradabanku meremehkan ciptaanMu itu. Ibarat Izrail yang mencabut nyawa manusia dengan tangan dinginnya, mondar mandir di sebelahku untuk melihat siapa giliran berikutnya.

 

Aku kian terasing dengan peradabanku sendiri, seperti kantuk tiada tara berkelahi dengan kelopak mata untuk tetap terjaga, mencoba berteriak namun kerongkonganku tercekat, ingin berbicara namun lidahku kelu, nafas pun kian tersengal bahkan ku tak bisa meraih orang kesayanganku karena tiada daya menggerakkan tanganku. Tubuhku terasa panas. Ku tahu aku sadar, tapi kutahu aku tiada berdaya. Hanya bisa menangis karena merasakan betapa tipisnya perbedaan antara hidup dan mati.

 

Aku sendirian dalam hiruk pikuk yang hanya kudapat dengarkan tangis orang di sekelilingku. Aku harus hidup dalam dunia plastik, sendirian dalam keriuhan. Keterasingan di tengah keramaian. Bahkan udara yang cuma-cuma pun harus mengalir hanya untukku melalui relung hidungku. Semua penunjang kehidupan mengalir melalui selang plastik. Engkau ibarat mengejekku. Ku tak tahu bagaimana cara menghadirkanMu sementara mengurus diriku sendiri saja sudah sulit. Berujung dengan kepasrahan. Yang terbayang hanyalah deretan gambar orang-orang tercinta yang berebut silih berganti dalam pikiranku.

 

Ya Rabbi, aku dapat menangkap makna ciptaanMu itu tak lain untuk menyampaikan pesan bahwa Engkau cemburu. Sangat lembut dan penuh kasih Kau tunjukkan bahwa Engkau cemburu karena aku mengejarMu hanya untuk sakit dan derita. Hanya untuk terminal ratapan. Ku lupa bahwa udara yang kuhirup cuma-cuma itu tak lain adalah wujud kasihMu agar aku tiap waktu mengingatMu dan tiada menunggu harus merasakan udara melalui pipa plastik.

 

Kini kurasakan betapa sayangnya Engkau kepadaku. Jentikan jariMu, hanya dengan kun faya kun, dan derita pun sirna. Aku sangat bahagia karena Engkau memilihku untuk lulus dalam ujianMu. Syahid dan Al Fatihah bagi yang harus menemuiMu terlebih dahulu di alam sana. 

 

Kusadari sekarang, makna kesendirian. Makna dimana hanya Engkau dan aku yang memperoleh saat langka berdialog dan mencurahkan perasaan. Tanpa batas. Tanpa jarak. Kutemukan tempat curahan itu karena Engkau sangat senang tatkala menjadi buku harianku. Tiada sabar ingin segera kutuliskan kegembiraanku 5 kali dalam sehari. Aku masih ingin kau paksakan lututku menekuk supaya dahiku melekat erat dengan bumi. Dengan begitu ku bebas menciumiMu dan bertasbih. Bebas bercengkerama denganMu.

 

Kini datanglah Engkau bersama angin, bersama dinginnya malam, bersama gelapnya tidurku, bersama rintik hujan, bersama gemuruh ombak laut, bersama irama jantungku agar Aku bisa menikmati kasihMu.

 

Ya Rabbi, mata hatiku…

 

Pintaku, jangan ambil jiwaku sebelum kuntuntaskan memahamiMu melalui kitab suciMu yang mendekatkanku karena ciptaan-ciptaanMu.

 

Sebelum kau buramkan mataku hanya untuk mengasah mata hatiku agar semakin tajam melihatMu dalam kegelapan.

 

Sebelum kau tulikan telingaku hanya untuk dapat memilah suara panggilanMu setiap subuh siang sore dan malam.

 

Jangan pikunkan pikiranku supaya aku masih bisa memenuhi otakku hanya dengan 99 namaMu.

 

Supaya Engkau tahu bahwa aku sekarang sangat senang menulis buku harian itu.

 

Kupersembahkan prosa liris ini untuk para penyintas Covid-19 yang telah melewati masa kritisnya.

 

 -R- 

Join the Conversation

6 Comments

  1. Banyak hal yang menyadarkan kita akan kebesaran dan kasih sayang Allah SWT kepada kita salah satunya adalah sakit. Semoga hal ini akan semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT. Aamiin ya robbal’alamin

  2. alhamdulilah😇
    akhirnya mbaRi bisa berkarya lageeh , tulisan yang sangat apik mbaRi ditunggu karya selanjutnya

    keep healthy yo mba🙏🏻

  3. Berbagi pengalaman yang realistis, ada takut pasti.Namun lebih banyak memberikan semangat dan harapan. Terima kasih untuk sharingnya. Sehat selaluuuuuu, Banyakin tutup lap top pleaseeeeeeee 🙂

  4. Ahhh air mataku ceteekk nihh… Ijin share buat temen-temen yang susah diajak vaksin ya mbak… 🙏🙏🙏

  5. tidak semua orang bisa sampai pada titik mampu bersuyukur….karena itu adalah ketetapan sang Pemilih…..dan keinginan berbagi itu membutuhkan tidak saja energi, tapi juga ketulusan
    selamat telah tercatat pada lembar sejarah untuk merasakan COVID dan berhasil untuk mengambil hikmahnya……salam salut ya

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!